Balada Mading
Friday, January 7, 2011 x 7:30 AM
Ketika saya duduk di bangku SMP, Majalah Dinding adalah suatu karya yang keren. Dimana suatu tim bisa menumpahkan kreativitas, dipamerkan di tengah sekolah dan orang-orang melihatnya.
Di SMP Tarakanita, tempat saya sekolah, setiap bulan hanya akan ada 1 mading yang di pajang. Pembuatan mading itu dilakukan bergilir dari kelas 1 SMP - 3 SMP.
Kebetulan, tiba saatnya kelas saya membuat mading. Entah bagaimana caranya, saya ditunjuk untuk membuat tim. Setelah tim terbentuk, kami berencana membuat mading dengan dekorasi 3D. Kami merasa tertantang dan membuatnya dengan semangat membara. Kami juga menambahkan kolom yang belum muncul di mading-mading sebelumnya. Kolom tersebut adalah kolom komik (yang membuat komik itu teman saya).
Setelah mading tersebut dipajang, kami merasa puas. Respon dari kakak kelas juga cukup baik, salah satu hal yang membuat kami deg-deg-an.
1 bulan pun berlalu dengan cepat. Tiba saatnya mading kelas kami diturunkan. Pada saat itu saya tidak masuk karena sakit. Keesokan harinya saya langsung masuk sekolah, ogah sakit lama-lama...
Tiba-tiba segerombolan teman saya berlari menghampiri saya dengan muka harap-harap cemas..
"No, lu udah denger ceritanya?" tanya salah satu dari mereka.
Heran, saya kan baru masuk...so pasti ketinggalan gosip Hawt...
"Kemarin setelah kita turunin mading, madingnya langsung di sobek-sobek, dipecah-pecah sama Dyana!"
Kemudian Josephine bilang ke saya, dia cuma bisa nyelametin beberapa dekorasi 3D dan itupun sedang disembunyikan. Takut ketahuan dan disiksa secara bar-bar oleh Dyana dan konco-konconya.
Waktu itu saya memilih diam. Hanya menyayangkan tidak melihat secara live perubahan seorang manusia menjadi manusia berperilaku bar-bar..
Labels: JHS